Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malioboro Menata Diri

              

 

 "Malioboro terbentuk dari seniman dan angkringan"

Bicara tentang Yogyakarta, tak bisa memisahkan dengan Malioboro. Malioboro merupakan ikon Yogyakarta. Orang-orang berkunjung ke Malioboro untuk menikmati pameran budaya, ngangkring, dan beli oleh-oleh. Keberadaan Malioboro lekat sekali dengan musisi jalanan. Seperti tak pernah kehabisan seniman, Malioboro selalu menyuguhkan keindahan seni bertabur angkringan di mana-mana.

Pada tahun 1960-an, Malioboro sebagai tempat bertemunya para sastrawan-sastrawan besar yang kelak meramaikan dunia sastra di Indonesia. Sebut saja tokoh, seperti Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Nadjib, Iman Budhi Santosa, Linus Suryadi AG, dst. Para penulis muda Yogyakarta menganggap Malioboro sebagai rendezvous, tempat proses kreatif dan belajar: berdiskusi, membaca puisi, menulis, dan merencanakan kegiatan-kegiatan kreatif. 

Musisi Jalanan dan angkringan adalah bagian dari romantisme Malioboro. Tak bisa membayangkan apabila Malioboro akan sepi dari para seniman dan angkringan. 

Ketakutan orang-orang akan sepinya Malioboro benar-benar terjadi. Sultan Hamengkubuwono X pada Febuari awal 2022 merealisasikan relokasi pedagang Malioboro. Menurutnya, sudah 18 tahun menanti untuk merelokasi para pedagang kaki lima, bukan mundur 3 tahun, sudah 18 tahun. Alasan penertiban kawasan Malioboro karena tempat itu adalah hak pemerintah dan toko yang ada di belakangnya. 


Selain alasan tempat lapak para pedagang kaki lima adalah hak pemerintah dan toko yang ada di belakangnya. Malioboro sedang diajukan ke UNESCO untuk mendapatkan title sebagai kota "warisan budaya". 

Kini Malioboro sepi, panggung bebas para musisi sudah tak ada lagi. Masyarakat dikorbankan atas nama julukan kota "warisan budaya".

  

Posting Komentar untuk "Malioboro Menata Diri"