Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Generasi Frustasi



                                             

Marshall dan Penguin membagi generasi menjadi 5 bagian, yaitu generasi Baby Boomer (1946-1964), generasi X (1965-1980), generasi Y atau Millenial (1981-1994), generasi Z (1995-2010), dan Generasi Alpha (2011-2025). Orang-orang yang masuk dalam kategori generasi Y (millenial) dan generasi Z merupakan kumpulan seseorang yang menikmati cepat lambatnya perkembangan dalam hidupnya.

Antara generasi millenial dan generasi Z mempunyai kesamaan dalam mengalami masa-masa yang mana teknologi berkembang begitu cepat, mulai dari video game hingga sosmed. Arus adaptasi kedua generasi ini sangat adaptif, mereka dituntut dengan cepat mengikuti serbuan teknologi dan informasi yang menyerang mereka, layaknya sebuah kelinci percobaan ia mengalami masa-masa kelam di sisi lain juga menyenangkan. 

Para generasi millenial menganggap kehidupannya penuh kesialan karena menjadi percobaan yang tak kunjung henti-hentinya. Dimulai dari UN yang menggunakan 20 paket, pandemi, hingga demo besar serentak yang ternyata tidak menghasilkan apa-apa. 

Ketika 1998 demo besar-besaran yang terjadi di Indonesia dengan semangat menggulingkan kekuasaan Soeharto pada waktu itu yang dinilai korup dan sangat otoriter menuai hasil yang memuaskan. Sang diktator akhirnya turun dari singgasana ter-nyaman yang mana posisi itu tak sembarang orang dapat mendudukinya. 

Setelah lengsernya sang diktator negara menjadi lebih demokratis sehingga masyarakat lebih berani dalam mengekpresikan pendapatnya, di antaranya melalui demo.

Tepatnya pada masa pemerintahan Jokowi yang merupakan nama media darling kata Seno Gumira, di periode keduannya memunculkan beragam konflik imbas dari kebijakan yang diambilnya. 

Banyaknya keputusan-keputusan kontroversial di era pemerintahan Jokowi menyulut api anak-anak millenial untuk tak kalah dengan para pendahulunya yang pernah berhasil menumbangkan rezim otoriter di negeri ini. Layaknya Roro Jonggrang, rezim Jokowi sehari semalam menggebut mengesahkan UU Omnibus Law. Melihat konstelasi politik yang riuh para Millenial dan gen Z bersatu padu mengadakan gerakan yang masih menolak pengesahan UU Omnibus. 

Sialnya, saat mereka ingin melakukan aksi turun ke jalan terhalang oleh pandemi yang tiba-tiba menyerang seluruh dunia- Indonesia. Perurusan perijinan di kapolres dipersulit dengan alasan tidak boleh membuat kerumunan, tapi sang Millenial memberontak dan tetap menggencarkan aksinya, kantor-kantor kabupaten ramai dengan orang-orang demo begitu juga istana negara dan gedung DPR. Demi bangsa dan negara mereka rela mengorbankan nyawa entah dalam keadaan pandemi atau apa. 

Sialnya yang kedua, ternyata demo yang diprakarsai para mahasiswa ini tampak tidak seperti para pendahulunya yang meng-agung-agung-kan keberhasilannya menggulingkan pemerintah yang berkuasa. Demo kali ini penuh dengan canda karena yang datang banyak dari mereka yang numpang narsis tidak membawa argumentasi. Walaupun terlihat ramai, banyak isi tuntutan dari mereka yang tidak sampai pada substansinya malah melakukan pelecehan hingga numpang narsis untuk diupload di media. 

Sialnya yang ketiga, mereka-mereka yang menggenggam segala argumentasi untuk disampaikan pada wakilnya di pemerintahan, yaitu dprd tapi diam-diam membuat janji sendiri. Sehingga tuntutan-tuntutan yang mereka buat terlihat keras di permukaanya namun licik di belakangnya. Sehingga hanya menyisakan beberapa orang-orang saja yang mempertahankan argumentasinya untuk mosi tidak percaya hingga bertahan di depan gedung pemerintahan hingga larut malam. Bagaimana tidak frustasinya orang-orang yang berjuang menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat tinggal segelintir saja sedang yang mengutamakan golongan dan pribadinya bergelimang di negeri yang katanya subur.

 Semoga para generasi sekarang bisa menjadikan Indonesia kembali mendapatkan kewibawaan di mata dunia tanpa melakukan penindasan terhadap lingkungan dan rakyatnya.

Posting Komentar untuk "Generasi Frustasi"