Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tetap Ngedul di Kala Resesi



Pada tahun 1930 dunia mengalami resesi ekonomi global atau biasa disebut dengan masa Depresi Besar (The Great Depression). Resesi ini akibat anjloknya harga saham di Amerika yang menyebabkan krisis moneter belahan dunia -- termasuk Hindia-Belanda. Negara pengekspor bahan mentah seperti Hindia-Belanda mengandalkan pemasukan melalui ekspor perdagangan. Devisa negara yang didapat melalui ekspor barang-barang mentah terpaksa mandek karena tidak tersedianya pasar dan banyak negara yang mengalami resesi. Dalam lapisan masyarakat, krisis malaise membawa dampak yang kurang baik, dampak yang dirasakan oleh masyarakat, di antaranya adalah terkena PHK dan harga-harga produk pertanian turun drastis.

Akibat dari krisis malaise banyak perusahaan di Hindia-Belanda yang merampingkan pegawainya dengan alasan untuk menjaga tetap berjalannya perusahaan. Salah satu pabrik yang terkena dampaknya adalah pabrik rokok. Pabrik-pabrik di Hindia-Belanda banyak yang gulung tikar dan berhenti berproduksi dengan alasan resesi ekonomi yang sedang melanda dan kebijakan pemerintah Kolonial yang menaikkan cukai rokok untuk mendapat suntikan dana segar. 

Di tengah situasi resesi, pabrik rokok besar banyak yang tumbang dan menurunkan kualitas, rokok rumahan yang tersebar di Jawa Timur hingga Jawa Tengah mampu eksis menandingi pabrik-pabrik besar. Kebangkrutan industri rokok skala besar dan menengah mendorong segelintir kecil buruhnya terserap ke usaha rokok rumahan. 

Kebiasaan merokok merupakan tradisi bangsa masyarakat Nusantara sejak abad ke-15. Awalnya, masyarakat lebih menyukai nginang atau mengunyah daun sirih daripa merokok, tetapi Kolonial yang menganggap nginang merupakan kebiasaan yang menjijikan mencoba untuk merubah kebiasaan nginang dengan merokok yang dianggap lebih modern. Akhirnya kebiasaan merokok menghinggapi masyarakat hingga jajaran keraton. 

Sekalipun keadaan ekonomi sedang lesu dengan semakin maraknya rokok rumahan, masyarakat masih bisa menikmati tembakau lokal dan cengkeh yang kualitasnya kurang lebih sama dengan rokok hasil produksi pabrik besar pada waktu itu. Rokok rumahan mendapat pasokan tembakau dan bahan mentah lainnya secara lokal sehingga harganya tetap terjangkau. Harga yang terjangkau ini memudahkan masyarakat untuk tetap menikmati rokok walaupun situasi ekonomi sedang mengalami resesi. Dengan demikian, industri rokok rumahan merupakan bentuk usaha rokok kretek yang terbukti mampu eksis di tengah krisis.

Posting Komentar untuk "Tetap Ngedul di Kala Resesi"