Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dibodohkan oleh Pendidikan




Sebagian dari kalian pasti menggerutu ketika ada sebuah judul artikel yang mengatakan pendidikan sebagai tiang kemajuan malah menjadi unsur pembodohan. Tenang, di sini aku akan menjelaskan tentang pemahaman dari sudut pandang lain yang akan memberikan penguatan tentang bahayanya pendidikan yang terjadi di Indonesia. Aku tekankan lagi di sini yang salah bukanlah pendidikan sebagai individu yang berdirinya sendiri -- seperti kasus yang kemarin sempat ramai: arogansi agama yang dilontarkan oleh salah satu pegiat media sosial. Belajar dari kasus yang kemarin ramai bahwa agama itu arogan yang mendapat kecaman dari berbagai pihak, di sini aku menjelaskan bahwa pendidikan yang membodohkan adalah pendidikan ala-ala barat. 

Kita sebagai bangsa atau natie seharusnya punya jati diri yang dapat dijadikan pegangan bagi anak semua bangsa agar tidak hilang akar budayanya. Bangsa kita pernah mengalami kejayaan bila kita lihat dari sisi historisnya, selain dari segi historis kita juga unggul dalam genetik yang dipunyai nenek moyang kita. Tidak dapat dibantah bahwa nenek-moyang kita adalah manusia yang ahli pada bagian navigasi. Hal itu diperkuat oleh penulis terkenal Youval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Homo Sapiens. Selain itu, dari jaman kerajaan kita juga mempunyai nilai peradaban yang tinggi, dimulai dari peninggalan-peninggalan yang sampai sekarang masih dapat kita nikmati hingga naskah-naskah yang dibawa ke Belanda dan menyisakan sedikit saja yang ada di Indonesia. Pada jaman kerajaan kita sudah mengenal arti feminisme, pencarian Tuhan dsb. 

Spesifik mengarah ke pendidikan, sejak datangnya bangsa-bangsa barat ke Nusantara akibat pencarian rempah-rempah dan sistem kapitalisme, mereka juga membawa ajaran-ajaran yang mereka anggap benar. Pada waktu itu abad pertengahan, di Eropa sedang gencar era renaisance yang mengedepankan sikap antroposentrisme. Sedatangnya di Nusantara mereka tidak hanya berjualan, namun juga menyebarkan agama, pendidikan, pemahaman sosial, budaya dsb. Bangsa Indonesia yang mempunyai kultur budayanya sendiri ter-hegemoni oleh kebudayaan  barat yang disebarkan. 

Dalam bidang pendidikan, orang barat sangat bersifat menuhankan dirinya. Segala sesuatu harus dapat dipecahkan secara rasional, tanpa kerasionalan mereka anggap tidak ilmiah. Semenjak itu, budaya pendidikan di Indonesia mulai bergeser, masyarakat Indonesia tidak lagi percaya dengan pendahulunya. Di kampus-kampus di sekolahan yang mereka gunakan ada teori-teori dari orang barat, mulai dari Nietsche, filsuf Yunani dll. Mereka meninggalkan para tokoh bangsa yang mempunyai metodologis-nya tersendiri. Orang sekarang menganggap mempelajari tokoh-tokoh bangsa adalah hal yang kuno dan tidak perlu, apalagi karya-karyanyan banyak dalam bentuk bahasa sansekerta, jawa kuno dll, yang orang-orang enggan membacanya. Mereka menganggap para tokoh bangsa di jaman kerajaan tidak mempunyai cara fikir yang metodologis, rasional, dan ilmiah. Barat sudah meng-hegemoni masyarakat Indonesia, ia ingin memisahkan kekuatan bangsa dengan ilmu yang mereka sebarkan. 

Dalam diskusi antara Cak Nun dan Pak Manu (Dosen Filologi UGM dan masih mempunyai darah kerajaan). Pak Manu baru tersadar kebesaran ilmuan Nusantara ketika salah satu dosennya orang Belanda, yaitu Ankersmith berkata, "Manu kamu jangan bodoh, apa yang dikatakan dalam kitab nenek moyangmu itu apa bukan teori? kenapa kalian menyelesaikan permasalahan negara kalian dengan pendekatan keilmuan barat?". Semenjak itu Pak Manu tersadar akan kebesaran bangsa Indonesia dan bagaimana bangsa Indonesia dalam segala budayanya sudah ter-hegemoni oleh Barat yang semakin menjauhkan masyarakat Indonesia dari pendahulunya. Dalam diskusi antara Cak Nun dan Pak Manu (Dosen Filologi UGM dan masih mempunyai darah kerajaan). Pak Manu baru tersadar kebesaran ilmuan Nusantara ketika salah satu dosennya orang Belanda, yaitu Ankersmith berkata, "Manu kamu jangan bodoh, apa yang dikatakan dalam kitab nenek moyangmu itu apa bukan teori? kenapa kalian menyelesaikan permasalahan negara kalian dengan pendekatan keilmuan barat?". Semenjak itu Pak Manu tersadar akan kebesaran bangsa Indonesia dan bagaimana bangsa Indonesia dalam segala budayanya sudah ter-hegemoni oleh Barat yang semakin menjauhkan masyarakat Indonesia dari pendahulunya. 

Lebih lanjut dalam percakapannya yang sempat ditake-down oleh pihak you-tube. Pak Manu memberikan gambaran pengetahuan tentang keakraban nenek moyang kita dengan alam. Hubungan antar keduanya saling tergantung dan menganggap alam adalah saudaranya, sedang kedatangan bangsa barat mengacak-acak sifat kosmologis nenek moyang kita agar penerusnya tidak percaya dengan kekuatan bangsanya. Contoh nyata yang bisa kita bandingkan sekarang, nenek moyang kita dalam menyikapi segala penyakit mereka selesaikan dengan alam, namun jaman sekarang kita tidak akan percaya kalau obat yang digunakan nenek moyang kita mempunyai khasiat yang setara apabila belum teruji secara lab. Padahal nenek moyang kita juga manusia literer yang segala permasalahannya tercatat rapi. Hegemoni barat menjadikan manusia Indonesia hilang akar pengetahuannya, akar budayanya dan akar jati dirinya yang menjadikan mereka hanya ladang yang dapat menghasilkan uang berlipat-lipat. Barat mengenal antroposentrisme atau menuhankan dirinya sedang kita baratsentrisme karena tidak mempunyai keberanian untuk menuhankan dirinya sendiri dan lebih memilih ikut barat sebagai pandangan. 

Tulisan ini tidak mengajak kalian untuk tidak percaya lagi mengenai segala hal yang berkaitan dengan barat. Semua yang masuk harus dapat difilter agar masuknya sesuai dengan keilmuan kita. Kekayaan yang dimiliki pendahulu kita juga harus dirawat agar tidak hilang begitu saja diganti sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kultur bangsa.

Posting Komentar untuk "Dibodohkan oleh Pendidikan"