Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Partai Politik sebagai Instrumen Demokratisasi malah Sibuk Membangun Dinasti

         


Indonesia dari masa ke masa mengalami dinamika politik, mulai dari zaman pemerintahan Soekarno yang disebut sebagai Orde Lama, dilanjutkan pemerintahan Soeharto yang dikenal dengan Orde Baru, hingga jatuhnya Soeharto sebagai ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah yang melahirkan reformasi untuk negeri. Sekarang Indonesia sedang melakukan demokratisasi untuk menuju demokrasi yang diimpi-impikan.

Untuk membangun budaya politik di masyarakat, partai politik menjadi ujung tombak melakukan sosialisasi ke masyarakat bagaimana suatu tatanan hidup yang demokratis di negara demokrasi. Proses demokratisasi ini memang memerlukan dukungan penuh dari pemerintah maupun masyarakat, tanpa sinergi antara keduanya proses demokratisasi akan terhambat dan budaya politik demokrasi akan sulit tercapai. 

Alih-alih sebagai ujung tombak demokratisasi, partai politik di Indonesia sibuk dengan dinamika yang terjadi di dalam internal partai. Apabila kita lihat ketua umum partai politik di Indonesia, dari masa ke masa sangat sedikit yang mengalami perubahan kepemimpinan. Partai politik di Indonesia terkenal dengan one personal show dimana hanya satu orang itu saja yang tetap berkuasa di partai. Sebagai contoh Cak Imin (Muhaimin Iskandar) dari PKB yang menjadi ketua umum partai sejak 2005 hingga sekarang, begitu juga dengan Megawati di partai banteng menduduki jabatan ketua umum partai dari tahun 1999 hingga sekarang. Selain dua partai tersebut masih ada partai Demokrat yang terkenal dengan klan SBY nya, Gerindra dengan Prabowo nya, Nasdem dengan Surya Paloh, dan KPPI dengan Hary Tanoe nya.

Partai politik yang seharusnya menjadi contoh budaya politik tapi dalam realitanya dinasti yang bercokol di dalamnya. Tidak ada dinamika suksesi kepemimpinan dalam internal partainya. Sekarang sibuk mempersiapkan para anggota keluarganya untuk bisa menggantikan posisi jabatan ketua umum atau posisi ketua di daerah-daerah. 

Untuk dapat mewujudkan sebuat tatanan demokrasi, perlu kesadaran masyarakat hingga elite-elite partai untuk mengenal budaya politik demokrasi. Hinga saat ini, partai politik di Indonesia terkesan seperti oligarki yang hanya tunduk pada beberapa orang saja. Sudah seharusnya kita berbenah bersama dan memberikan edukasi demokratisasi bagi rakyat Indonesia untuk mencapai proses demokrasi yang sesungguhnya.


Posting Komentar untuk "Partai Politik sebagai Instrumen Demokratisasi malah Sibuk Membangun Dinasti"