Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sepakbola Roh dalam Hidupku

                                               
                           Gambar diambil dari:     https://www.kincir.com/movie/series/5-serial-animasi-sepak-bola-paling-nyeleneh

Sepakbola menjadi permainan yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Permainan yang sangat sederhana dan tak terlalu rumit untuk dilakukan menjadi salah satu faktor mengapa permainan ini digemari. Sifat egaliter dalam permainan sepakbola juga salah satu point plus untuk cabang olahraga satu ini. Orang dari kelas bawah sampai kelas atas boleh memainkannya. Pada masa pendudukan Belanda, sepakbola oleh Soeratin dijadikan wadah untuk meng-injeksi rasa nasionalisme di Indonesia. Belanda yang memecah belah Indonesia atau Hindia-Belanda melalui taktik devide et imperanya, oleh Soeratin mencoba disatukan kembali melalui sepakbola. Kala itu sepakbola memang menjadi salah satu olahraga yang merakyat. Walaupun begitu, Soeratin yang mempelopori berdirinya PSSI dengan susah payah mengadakan kompetisi, Belanda merasa tersaing dengan keberadaan PSSI sehingga kran untuk mengadakan kompetisi dihalang-halangi. Dengan semangat membara, Soeratin dkk. dapat melaksanakan kompetisi di Solo, tepatnya di Alun-alun. Bermula dari sinilah sepakbola dijadikan wadah untuk membangun semangat nasionalisme para pemuda dalam menindaklanjuti ikrar sumpah pemuda tahun 1928.
Sepakbola yang mempunyai sejarah panjang dalam persatuan di Indonesia juga mempunyai catatan tersendiri dalam kehidupanku. "Jangan sesekali memisahkanku dari sepakbola,"  salah satu quote yang tertancap dalam hatiku. Bola menjadi teman hidupku sedari kecil, lewat permainan di tempat yang tak layak digelar, yaitu di atas tempat orang-orang yang menjemur padi di tanah yang bergelombang aku memainkannya dengan teman-teman. Beranjak umur 12 tahun, aku dimasukkan ke salah satu tempat pelatihan sepakbola atau lebih dikenal dengan sebutan "SSB". Titik balik kehidupanku dimulai dari situ. Dalam satu minggu aku berlatih sebanyak 3 kali, dari situ mulai timbul berbagai jiwa sepakbola yang tertanam dalam diriku. Sepakbola yang awalnya hanya ku anggap sebagai permainan yang remeh-temeh ternyata memberikan efek yang luar biasa. Mungkin orang-orang menganggap sepakbola sebatas menendang dan memasukkan bola ke gawang. Namun bagiku, sepakbola lebih dari itu. Aku diajari bermain sesuai posisi, apabila seseorang sudah ditempatkan pada posisi tertentu maka mempunyai tugas sendiri-sendiri. Misalnya striker mempunyai tugas memasukkan bola ke gawang lawan, back mempunyai tugas menghalau bola agar tidak masuk ke daerah pertahanan, gelandang mempunyai tugas sebagai penghubung antara pemain belakang dan pemain depan. Bila dikorelasikan dengan kehidupan sehari-hari, seseorang harus mampu menempatkan posisinya dalam masyarakat. Itu ilmu yang luar biasa menurutku. Belum lagi tentang tanggung jawab dalam sepakbola.
Berbagai kompetisi telah kuarungi, berbagai kemenangan dan kekalahan telah ku lewati. Ketika tim tak mampu menang dalam suatu turnament semua akan terdiam menangis layaknya anak yang baru lahir. Kemenangan menjadi cobaan bagi tim, bila tim sudah merasa puas dengan permainannya, dapat dipastikan pertandingan selanjutnya akan mengalami kemrosotan dalam bermain.
Beberapa kali pelatih menasehatiku dalam suatu pertandingan, aku yang diposisikan sebagai pemain belakang sekaligus menjadi kapten, punya beban tersendiri dalam tim. Menjadi kapten bukanlah suatu tugas yang mudah, aku harus men-support teman-temanku yang sedang kelelahan untuk bangkit mengejar bola itu. Suntikan semangat harus diberikan kepada rekan se-tim selama pertandingan berlangsung. Aku berjibaku menghalau lawan yang mencoba memasuki daerah pertahananku. Prinsipku: jangan sampai bola itu melewati garis pertahananku, segala upaya kan ku lakukan demi membuat nyaman penjaga gawang. Jatuh bangun menjadi hal yang biasa dalam pertandingan, mengambil bersih bola dari lawan adalah keunggulanku. Dalam sepakbola antara otak dan gerakan harus bergerak cepat, terlambat 1 detik saja dapat menjadi mara bahaya. Apabila bola yang ku kuasai direbut oleh pemain lawan, entah bagaimana caranya aku harus dapat merebut kembali bola itu. Sudah merupakan tanggung jawab bagi semua pemain yang kehilangan bola untuk mengambil bola itu untuk kembali di kakinya.
Dalam bermain bola dapat dikatakan aku kurang mempunyai teknik yang handal seperti teman-teman lainnya. Sama seperti halnya Puyol, dia menyadari mempunyai teknik yang jauh berbeda dengan Ronaldo, Figo dkk. tetapi yang membedakannya dengan pemain-pemain itu adalah kerja keras dan semangat yang membara.
Kebanyakan manusia yang berada di umur 20+  mengalamai quarter life crisis, begitupun dengan diriku yang tiba-tiba kehilangan arah tak tau harus melangkahkan kaki ke mana dan apa yang dituju. Beberapa minggu hanya kuhabiskan dengan bermain game dengan perasaan cemas tak menentu. Tiba-tiba salah satu tetangga saya mengajakku untuk sepakbola--memang biasanya setiap sore hari senin, rabu, dan minggu kuhabiskan soreku di lapangan hijau belakang sd. Tapi tak tau mengapa seminggu terakhir rasanya sangat malas untuk menggerakkan badan keluar dari kasur. Badan yang sudah beberapa bulan tidak bergerak leluasa, sore itu harus mencicipi permainan di tanah lapang yang penuh genangan. Ku rasai badan ini lemah tak punya energi seperti dulu kala, karena tak mau malu dengan yang lain ku paksakan diriku merebut bola di antara kaki lawan, tak kuasa badan ini tersungkur terjerembab dalam genangan. Tiba-tiba muncul semangat kembali dalam hati, bahwa tujuan hidup ibarat bola yang dikuasai lawan, harus direbut dan dikuasai agar kita miliki. Dalam merebutnya harus melalui tekad yang kuat, jatuh bangun dan kerja keras. Mungkin orang yang religius akan mengatakan bahwa bila engkau mulai kehilangan tujuan hidupmu tengoklah sholatmu, namun tak semua orang bisa menemukan dirinya seperti itu. Banyak sesuatu hal kecil yang dapat menyadarkan dirinya untuk bangkit kembali.
Tanpa disadari, sepakbola telah menjadi bagian dari hidupku. Sepakbola menjadi darah segar bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan suntikan dalam mengarungi kehidupan. Semoga persepak bolaan Indonesia bisa terbang tinggi mengepakan sayap mengudara di seluruh penjuru negeri. Semua masyarakat menanti prestasi di kancah persepak bolaan dunia.

1 komentar untuk "Sepakbola Roh dalam Hidupku"