Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Revolusi Pertanian: Perangkap Terbesar dalam Sejarah


Berdasarkan kronologis kehidupan manusia purba atau manusia praaksara dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Masa berburu dan pengumpul; 2. Masa bercocok tanam (Revolusi Pertanian); 3. Masa perundagian. Dalam tulisan ini akan membahas tentang transisi kehidupan manusia purba masa berburu dan pengumpul ke masa kehidupan bercocok tanam.

Siapa kira di zaman manusia bercocok tanam atau revolusi pertanian ialah awal mula dari kehancuran alam semesta. Manusia purba yang awalnya hidup nomaden memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitar untuk bertahan hidup harus merubah kebiasaannya menjadi manusia yang bercocok tanam dan mulai menetap dalam jangka waktu yang lama untuk bertempat tinggal.

Para cendikiawan dahulu menyatakan bahwa revolusi pertanian adalah lompatan jauh ke depan bagi umat manusia. Mereka menuturkan kisah kemajuan yang didorong kemampuan otak manusia. Evolusi secara bertahap menghasilkan manusia yang semakin cerdas. Akhirnya, orang-orang sedemikian cerdas hingga mampu memecahkan rahasia alam, memungkinkan mereka menjinakkan domba dan membudidayakan gandum. Setelah itu, mereka dengan girang meninggalkan kehidupan pemburu-pengumpul yang berat, berbahaya, dan kerap kali keras, untuk menetap dan menikmati kehidupan petani yang menyenangkan dan mengenyangkan.

Apa yang dikatakan cendikiawan itu adalah sebuah khayalan. Tidak ada bukti bahwa manusia menjadi semakin cerdas seiring waktu. Para manusia pemburu-pengumpul sudah mengetahui terlebih dahulu tentang rahasia alam dibanding manusia bercocok tanam. Keberlangsungan hidup mereka yang dihabiskan bersama dengan alam, memberi bekal pengalaman tentang hewan dan tumbuhan yang mempunyai racun, yang dapat dijadikan obat dan dapat dijadikan bahan makanan. Sebaliknya, kehidupan revolusi pertanian yang digadang-gadang sebagai kehidupan yang mapan malah menjerumuskan petani ke dalam kehidupan yang lebih berat dan kalah memuaskan dibanding dengan kehidupan pemburu-pengumpul. Manusia pada masa berburu dan pengumpul lebih sedikit menghadapi bahaya kelaparan karena sumber daya yang ada di sekitar sangat melimpah juga kalau dirasa persediaan sudah mulai habis mereka segera berpindah tempat untuk mencari sumber daya yang masih dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sedangkan pada masa revolusi pertanian, walaupun merek sudah mulai mendomestikasi gandum untuk digunakan sebagai bahan pokok makanan, tetapi mereka lebih besar terancam kelaparan. Manusia yang sudah mulai meninggalkan kehidupan berburu meninggalkan ke kehidupan bercocok tanam, secara fakta stok makanan lebih banyak dibandingkan masa kehidupan berbubur-pengumpul, tetapi dengan berlimpahnya stok makanan akan memuncul suatu permasalahan baru, yaitu ledakan penduduk dan munculnya kaum elite di antara persekumpulan orang-orang tersebut.

Persoalan yang muncul dalam kehidupan bercocok tanam, yaitu mereka harus bekerja keras daripada kehidupan berburu-pengumpul. Dahulu mereka yang mencari makanan mengandalkan hewan-hewan yang ada di sekitar, sekarang mereka mulai mendomestikasi gandum sebagai bahan pokok. Gandum tidak bisa tumbuh subur bila ada batu kerikil dan rumput-rumput penggangu, jadi manusia bercocok tanam menghabiskan waktunya seharian penuh untuk menjaga tanaman kesayangannya agar tumbuh subur dan terhindari dari gangguan hama. Mereka juga harus mulai memikirkan sistem irigasi yang diperuntukkan mengairi gandum. Hama yang setiap saat menyerang juga menjadi momok bagi manusia bercocok tanam, belum lagi masa paceklik yang menghantui mereka. Transisi kehidupan dari berubru-pengumpul ke bercocok tanam yang oleh para cendikiawan dikatakan sebagai kehidupan yang maju ternyata runtuh ketika melihat fakta yang ada. Revolusi pertanian menuntut mereka untuk bekerja keras siang dan malam untuk merawat dan menanti masa panen gandum. Bila terjadi kegagalan panen mereka bisa tewas dalam keadaan lapar dan hal ini sangat jarang terjadi pada manusia pemburu-pengumpul.

Hilangnya ladang penggembalaan ke tangan tetangga penyerbu dapat menjadi urusan hidup dan mati, sehingga tidak banyak ruang untuk berkompromi. Ketika suatu kawanan pemburu-pengumpul terdesak oleh pesaing yang kuat, biasanya kawanan itu bisa pindah mencari tempat yang belum di huni dan masih banyak menyimpan sumber daya alam. Memang keadaan ini sangat sulit dan berbahaya, namun masih bisa dilakukan. Ketika desa yang kuat mengancam desa petani, pergi berarti menyerahkan ladang, rumah, dan lumbung ke tangan lawan. Dalam banyak kasus, itu menjerumusukan para pengungsi ke dalam kelaparan. Karenanya, para petani cenderung bertahan dan bertarung hingga titik darah penghabisan.

Kehidupan desa tentunya membawa sejumlah keuntungan langsung bagi para petani pertama, seperti perlindungan yang lebih baik dari hewan liar, hujan, dan suhu dingin. Namun, bagi rata-rata orang, kerugiannya barangkali mengalahkan keuntungannya. Orang-orang masa kini sering menganggap bahwa revolusi pertanian adalah suatu perbaikan yang hebat. Namun keliru kiranya bila menilai ribuan tahun sejarah dari sudut pandang masa kini. Sudut pandang yang jauh lebih representatif adalah sudut padang seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang meninggal akibat kurang gizi di Tiongkok pada abad ke-1 karena tanaman pangan ayahnya mengalami gagal panen. Dapat disimpulkan bahwa revolusi pertanian adalah suatu kesalahan perhitungan.


Posting Komentar untuk "Revolusi Pertanian: Perangkap Terbesar dalam Sejarah"