Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Cinta Untuk Emha

                                                         (Diambil dari: Kompasiana.com)


Tepat pada tanggal 27 Mei 1953, di Jombang lahir seorang laki-laki yang sangat berkharisma dan pro terhadap 'wong cilik'. Ia ditempa oleh kerasnya dunia yang sama sekali tak berpihak padanya, namun keteguhan hati dapat merubah itu semua. Pada 27 Mei 2020 menjadi ulang tahun yang ke-67 tahun untuknya. Untuk menghadiahi ulang tahun yang ke 67, aku persembahkan surat cintaku pada beliau: Emha. Walaupun suratku sedikit makna namun petuah-petuah beliau selalu penuh makna: pada orang yang sedang tersesat oleh dunia...

Awal aku mengenal beliau, yaitu pada tahun 2017 dimana masa-masa sulit sedang menerpa hidupku. Setelah lulus SMA jati diriku goyah melihat terjadi banyak penolakan oleh universitas-universitas kepadaku. Pada tahun itu pula aku mantapkan langkahku untuk berhenti sejenak melihat kekurangan pada diri sendiri untuk memulai ancang-ancang yang baru. Berbagai pendekatan telah aku lakukan, baik spiritual maupun jasmaniah telah aku terapkan. Langkah spiritual ku lakukan dengan menerapkan sunnah dan melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan hambanya kepada sang pencipta. Langkah jasmaniah ku terapkan dengan mengasah kemampuan intelektualku dengan menjawab latihan-latihan soal hingga mencari jalan berliku di youtube. 

Sedikit memenggal alur cerita: aku merupakan seorang pengembara kecil yang pernah terjebak dalam kerasnya aliran agama. Dengan menolak hal-hal yang terlihat bertentangan denganku dengan lantang aku mengkafirkan orang yang tak sepaham denganku.

Kerja keras dan ikhtiarku kerap mendapat hasil yang tak memuaskan bagiku, pada suatu waktu ketika detik-detik kesempatan terakhir untuk mewujudkan keinginanku untuk melanjutkan study ku tidak sesuai dengan harapan, aku memutuskan untuk tidak percaya lagi pada yang namanya Tuhan.

Ku teriakkan segala kekesalanku pada yang katanya 'Sang Pencipta' 'Sang Penolong' dsb. Aku benar-benar muak dan tak percaya lagi pada kebesaran-kebesaran yang ada di luar diriku. Walaupun begitu, hati kecil masih berkata: kamu tidak akan bisa terus-terusan jauh dari-Ku. Ada suatu moment tertentu melalui media youtube aku mendapatkan pencerahan dan seakan-akan menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang tak ku temui jawabannya sendiri, yaitu kata-kata mutiara Mbah Nun yang menyejukkan kembali hati dan perilaku yang sudah jauh tersesat dari alam semesta raya.

Petuah tentang kehidupan yang pola pikirnya sangat lincah dan tak terprediksikan, membukakan mata hati dan pikiranku untuk merubah mindset yang kolot dan tersesat. Berpuluh-puluh kegagalan bukan menandakan tidak adanya rasa cinta Tuhan kepada hambanya, justru lewat kagagalan-kegagalan tersebut sang khalik mengajak untuk bercumbu dan bersimpuh mesra dengan mendendangkan 99 nama Tuhan. Pembahasan tentang lagu-lagu yang diciptakan oleh wali sanga semakin menguatkan hati yang sempat jauh meninggalkan sang penguasa semesta. Makna lagu lir-ilir yang salah satu liriknya: lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot niro, mempunyai arti yang begitu dalam. Walaupun kehidupan kita terjegal-jegal, hidup tetap harus bangkit untuk menjalani seperti semula. Bisa juga diartikan, walaupun menegakkan perintah Tuhan itu sulit tapi kalian harus tetap melakukannya. 

Dari situ hati kecilku mulai terbukakan dengan pandangan yang baru, semakin aku mencintai beliau dengan mendengarkan petuah-petuah yang lain yang tk kalah apiknya. 'Identifikasi dirimu dalam kesunyian', salah satu petuah yang tk kalah apik juga. 

Berkat beliau, semangat memandang kehidupan semakin membara, petuah-petuah yang sangat pro terhadap wong cilik dan orang-orang yang bingung di persimpangan jalan sangat membantu setiap insan untuk menguatkan pondasi kehidupan yang lebih kokoh.

Walaupun aku begitu mencintaimu, tapi aku selalu mengingat pesanmu: jangan pernah mengkultuskan aku, menganggap aku sebagai kiyai ataupun ulama. Emha merupakan mbah yang selalu setia menemani cucu-cucunya yang kebingungan di perisimpangan jalan. Semoga Tuhan memberikan kenikmatan hidup yang tiada tara di dunia dan akhirat, semoga di akhirat kelak aku bisa berjumpa dengan-Mu dan mbahku...

Posting Komentar untuk "Surat Cinta Untuk Emha"